Kamis, 24 Maret 2016

Kritisi Filsafat Pendidikan Paulo Friere

            Sebelum kita membahas dan mengkritis isi tulisan ini terlebih dahulu kita harus mengenal biografi singkat nama tokoh yang tercantum “Paulo Friere”, setelahnya baru kita bisa membahas bagaimana cikal bakal dan alur pemikirannya.
            Membaca pemikiran Paulo Freire tidak bisa dipisahkan dari sejarah hidupnya, dia adalah seorang tokoh pendidikan dan teoretikus pendidikan yang berpengaruh, akan tetapi jangan sampai kita lewat salah satu kenapa namanya masuk dalam beberapa pembahasan adalah karena dia seorang yang kontroversial, ia menggugat sistem pendidikan yang telah mapan dalam masyarakat Brasil[1].
            Dari sini kita sudah bisa menyimpulkan bahwa pemikiran seorang Paulo Friere berbau Radikal, hingga masyarakatnya sendiripun banyak yang tidak setuju, lalu kita pasti mulai sadar bagaimana kira-kira jika pemikirannya ingin dicoba diterapkan pada masyarakat[2] yang berbeda.
            Sekarang kita sudah tau sedikit tentang Paulo Friere lantas setelah membaca tulisan “Mengenal Filsafat Pendidikan Paulo Freire” kita akan mendapatkan pada hal.1 alenia ke 2 pernyataan bahwa “Daya tarik dan kekuatan Freire adalah kejujuran untuk mengungkapkan, menyatakan, tanpa tedeng aling-aling kondisi kemanusiaan kita yang telah sedemikian rupa rapuhnya” dan “Freire telah lahir dan tampil dengan suara lantang menyatakan sikapnya terhadap kenyataan sosial yang carut-marut, itu biasanya selalu menarik.” Hal yang perlu kita kaji kembali adalah daya tarik apa sebenarnya yang muncul dari pemikirannya?, dan pernyataan bahwa friere menghadapi sosial yang carut marut juga bukan hal yang harus kita terima utuh, karena dari profil yang tertulis di buku maupun beberapa media, saat itu Brazil berada pada tahap yanng dikatakan mapan oleh masyarakat, bukankah ini sama-sama sebuah pernyataan namun berbeda dan perlu kita toleh sejarah akan keberannya.
            Sedangkan kekuatan Friere yang sering dibicarakan yang dikatakan mampu menukik langsung pada pokok-pokok persoalan dengan bahasa ungkap yang sangat sederhana, suatu yang tidak dipungkiri hanya saja pada kenyataannya bahasa tersebut bukan pokok masyarakat Brazil saat itu dapat menerima Filsafat Friere termasuk dalam pendidikan yang pada saat itu telah memiliki Sistem yang mapan menurut masyarakat brazil, hingga apa yang diutarakan friere dengan cara dan pemikiran tidak mudah diterima.
            “Oleh karena guru yang menjadi pusat segalanya, maka merupakan hal yang lumrah saja jika murid-murid kemudian mengidentifikasikan diri seperti gurunya sebagai prototip manusia ideal yang harus ditiru dan digugu, harus diteladani dalam semua hal.” Seperti Friere terlihat tidak setuju atau memang tidak suka dengan realita tersebut, karena menurutnya bisa membuat rantai guru yang menindas terus bersambung, memang asumsi yang tidak boleh dipandang sebelah mata, namun apakah memang lebih baik jika nantinya siswa tidak menjadikan gurunya sebagai prototip manusia ideal yang bisa jadi dia menjadi orang yang lebih fatal dari guru tersebut, bukankah kita tahu guru yang menindas pada kenyataan di dunia pendidikan Indonesia terhitung lebih minim dari pada guru yang bisa dijadikan teladan siswa.
            Menurut Friere juga (pada hal.5) “Sistem pendidikan mapan selama ini telah menjadikan anak-didik sebagai manusia-manusia yang terasing dan tercerabut (disinherited masses) dari realita dirinya sendiri dan realitas dunia sekitarnya, karena ia telah mendidik mereka menjadi ada dalam artian menjadi seperti yang berarti menjadi seperti orang lain, bukan menjadi dirinya sendiri.” Namun sadarkah pernyataan-pernyataannya itu sebenarnya hasil dari apa yang dia lihat di sekitarnya saja,  jadi belum tentu Filsafat Pendidikannya yang dikatakan mendunia bisa cocok disetiap tempat semisal Indonesia, yang mana Filsafat Pendidikan kita secara mayoritas telah mapan mengikuti Filsafat para wali songo atau yang semisalnya.
            “pendidikan harus memberi keleluasaan bagi setiap orang untuk mengatakan kata-katanya sendiri, bukan kata-kata orang lain. Murid harus diberi kesempatan untuk mengatakan dengan kata-katanya sendiri, bukan kata-kata sang guru.” Yang terlintas dibenak saya adalah pendidikan berbasi demokrasilah yang ada pada Filsafat pendidikan Paulo Friere, dan yang kedua dari beberapa pernyataan Friere saya melihat ada warna Libralisme atau dikenal juga dengan Qadariyah[3] yang jelas sudah bahwa isi pemikirannya kerap merusak paham jiwa muda.
            Ikhtisar dari kritisi ini adalah saya hanya ingin mengajak kita bersama untuk membuka mata, dan mengingatkan bahwa fanatisme bukanlah hal yang boleh kita biarkan ada pada kita, dari apa yang saya kritis itu hanya celah yang dapat saya lihat tapi tidak menutup kemungkinan bahwa ada beberapa hal yang benar ada pada pemikiran Paulo Friere, semisal pendapatnya tentang Humanisasi, “fitrah manusia sejati adalah menjadi subyek bukan objek”, dan “pendidikan haruslah berorientasi kepada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri”, pemikiran yang perlu dipertimbangkan adanya pada setiap pendidik.
Intinya kita tidak boleh fanatik dan ego, yang harus kita lakukan adalah
Katakan yang benar adalah benar...Ambillah
Katakan yang salah adalah salah...Buanglah
السلام عليكم ورحمة الله



[1] Bilqulub.blogspot.com
[2] Khususnya masyarakat indonesia
[3] Pemahaman yang mengatakan bahwa yang menentukan apapun yang berhubungan dengan manusia adalah usahanya sendiri, dan menyongsong kebebasan
(qadariyah...bukan qadiriyah yang nama sebuah tareqat yang diajarkan oleh syech abdul qadir aljailaniy)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar