Sebelum kita
membahas dan mengkritis isi tulisan ini terlebih dahulu kita harus mengenal
biografi singkat nama tokoh yang tercantum “Paulo Friere”, setelahnya
baru kita bisa membahas bagaimana cikal bakal dan alur pemikirannya.
Membaca pemikiran
Paulo Freire tidak bisa dipisahkan dari sejarah hidupnya, dia adalah seorang
tokoh pendidikan dan teoretikus pendidikan yang berpengaruh, akan tetapi jangan
sampai kita lewat salah satu kenapa namanya masuk dalam beberapa pembahasan
adalah karena dia seorang yang kontroversial, ia menggugat sistem pendidikan
yang telah mapan dalam masyarakat Brasil[1].
Dari sini kita
sudah bisa menyimpulkan bahwa pemikiran seorang Paulo Friere berbau Radikal,
hingga masyarakatnya sendiripun banyak yang tidak setuju, lalu kita pasti mulai
sadar bagaimana kira-kira jika pemikirannya ingin dicoba diterapkan pada
masyarakat[2]
yang berbeda.
Sekarang kita
sudah tau sedikit tentang Paulo Friere lantas setelah membaca tulisan “Mengenal
Filsafat Pendidikan Paulo Freire” kita akan mendapatkan pada hal.1 alenia
ke 2 pernyataan bahwa “Daya tarik dan kekuatan Freire adalah kejujuran untuk
mengungkapkan, menyatakan, tanpa tedeng aling-aling kondisi kemanusiaan kita
yang telah sedemikian rupa rapuhnya” dan “Freire telah lahir dan tampil
dengan suara lantang menyatakan sikapnya terhadap kenyataan sosial yang
carut-marut, itu biasanya selalu menarik.” Hal yang perlu kita kaji kembali
adalah daya tarik apa sebenarnya yang muncul dari pemikirannya?, dan pernyataan
bahwa friere menghadapi sosial yang carut marut juga bukan hal yang harus kita
terima utuh, karena dari profil yang tertulis di buku maupun beberapa media,
saat itu Brazil berada pada tahap yanng dikatakan mapan oleh masyarakat,
bukankah ini sama-sama sebuah pernyataan namun berbeda dan perlu kita toleh
sejarah akan keberannya.
Sedangkan kekuatan
Friere yang sering dibicarakan yang dikatakan mampu menukik langsung pada
pokok-pokok persoalan dengan bahasa ungkap yang sangat sederhana, suatu yang
tidak dipungkiri hanya saja pada kenyataannya bahasa tersebut bukan pokok
masyarakat Brazil saat itu dapat menerima Filsafat Friere termasuk dalam
pendidikan yang pada saat itu telah memiliki Sistem yang mapan menurut
masyarakat brazil, hingga apa yang diutarakan friere dengan cara dan pemikiran
tidak mudah diterima.
“Oleh karena
guru yang menjadi pusat segalanya, maka merupakan hal yang lumrah saja jika
murid-murid kemudian mengidentifikasikan diri seperti gurunya sebagai prototip
manusia ideal yang harus ditiru dan digugu, harus diteladani dalam semua hal.”
Seperti Friere terlihat tidak setuju atau memang tidak suka dengan realita
tersebut, karena menurutnya bisa membuat rantai guru yang menindas terus
bersambung, memang asumsi yang tidak boleh dipandang sebelah mata, namun apakah
memang lebih baik jika nantinya siswa tidak menjadikan gurunya sebagai prototip
manusia ideal yang bisa jadi dia menjadi orang yang lebih fatal dari guru
tersebut, bukankah kita tahu guru yang menindas pada kenyataan di dunia
pendidikan Indonesia terhitung lebih minim dari pada guru yang bisa dijadikan
teladan siswa.
Menurut Friere
juga (pada hal.5) “Sistem pendidikan mapan selama ini telah menjadikan
anak-didik sebagai manusia-manusia yang terasing dan tercerabut (disinherited
masses) dari realita dirinya sendiri dan realitas dunia sekitarnya, karena ia
telah mendidik mereka menjadi ada dalam artian menjadi seperti yang berarti
menjadi seperti orang lain, bukan menjadi dirinya sendiri.” Namun sadarkah
pernyataan-pernyataannya itu sebenarnya hasil dari apa yang dia lihat di
sekitarnya saja, jadi belum tentu
Filsafat Pendidikannya yang dikatakan mendunia bisa cocok disetiap tempat
semisal Indonesia, yang mana Filsafat Pendidikan kita secara mayoritas telah
mapan mengikuti Filsafat para wali songo atau yang semisalnya.
“pendidikan
harus memberi keleluasaan bagi setiap orang untuk mengatakan kata-katanya
sendiri, bukan kata-kata orang lain. Murid harus diberi kesempatan untuk
mengatakan dengan kata-katanya sendiri, bukan kata-kata sang guru.” Yang terlintas
dibenak saya adalah pendidikan berbasi demokrasilah yang ada pada Filsafat
pendidikan Paulo Friere, dan yang kedua dari beberapa pernyataan Friere saya
melihat ada warna Libralisme atau dikenal juga dengan Qadariyah[3]
yang jelas sudah bahwa isi pemikirannya kerap merusak paham jiwa muda.
Ikhtisar dari
kritisi ini adalah saya hanya ingin mengajak kita bersama untuk membuka mata,
dan mengingatkan bahwa fanatisme bukanlah hal yang boleh kita biarkan ada pada
kita, dari apa yang saya kritis itu hanya celah yang dapat saya lihat tapi
tidak menutup kemungkinan bahwa ada beberapa hal yang benar ada pada pemikiran
Paulo Friere, semisal pendapatnya tentang Humanisasi, “fitrah manusia sejati
adalah menjadi subyek bukan objek”, dan “pendidikan haruslah
berorientasi kepada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri”, pemikiran
yang perlu dipertimbangkan adanya pada setiap pendidik.
Intinya
kita tidak boleh fanatik dan ego, yang harus kita lakukan adalah
Katakan
yang benar adalah benar...Ambillah
Katakan
yang salah adalah salah...Buanglah
السلام عليكم ورحمة الله
[1] Bilqulub.blogspot.com
[2] Khususnya
masyarakat indonesia
[3] Pemahaman
yang mengatakan bahwa yang menentukan apapun yang berhubungan dengan manusia
adalah usahanya sendiri, dan menyongsong kebebasan
(qadariyah...bukan qadiriyah yang nama sebuah tareqat
yang diajarkan oleh syech abdul qadir aljailaniy)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar